
#SULUKDESA18
Pagi di Klaten mungkin terasa tenang. Matahari masih terbit, sawah masih hijau, dan rutinitas berjalan seperti biasa. Namun, sebagai orang yang biasa bekerja dengan data dan melihat peta besar, ada getaran lain yang saya rasakan. Sebuah kegelisahan yang tidak bisa didiamkan.
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Indonesia, rumah besar kita, sedang berdiri di ambang apa yang disebut para analis sebagai “Perfect Storm” atau badai sempurna.
Kita tidak sedang membicarakan ramalan kiamat, tapi kita sedang bicara soal “hitung-hitungan dagang” dan geopolitik yang masuk akal. Di utara, raksasa-raksasa dunia sedang bersitegang; satu letupan di Taiwan atau Laut Natuna bisa memutus rantai pasok pangan dan energi kita dalam semalam. Di dalam negeri, kita melihat kelas menengah yang mulai “ngos-ngosan”, tabungan tergerus hanya untuk makan, dan pabrik-pabrik yang merumahkan ribuan buruh.
Lalu, apa hubungannya dengan kita di desa?
Justru di sinilah titik krusialnya. Saat “kapal induk” bernama Negara sedang diguncang ombak besar ekonomi dan politik global, sekoci penyelamatnya adalah Desa.
Namun, pertanyaannya: Apakah sekoci kita sudah siap? Atau sekoci kita justru sedang bocor dan kehilangan arah?
Dalam renungan Suluk Desa kali ini, saya ingin mengajak para pegiat desa, pengurus BUMDes, dan sahabat-sahabat Koperasi untuk berhenti sejenak dari rutinitas administratif dan melihat cakrawala.
- Bahaya Kelaparan vs Kemandirian Pangan Banjir dan longsor di Sumatera awal tahun ini adalah teguran keras. Alam mulai lelah. Sementara itu, lahan sawah di Jawa terus tergerus beton. Jika rantai pasok global putus karena perang, siapa yang akan memberi makan rakyat? Impor beras tidak akan selamanya jadi jawaban. Solusinya ada di tanah kita sendiri. Konsep continuous farming (pertanian berkelanjutan) dan pemanfaatan lahan sempit secara vertikal bukan lagi sekadar tren hobi, tapi kewajiban strategis. Desa harus berdaulat atas piring nasinya sendiri.
- Bahaya Pengangguran vs Santripreneur Kita punya jutaan anak muda. Jika mereka tidak punya skill, mereka akan jadi beban demografi yang mudah dibakar amarahnya. Tapi jika mereka dibekali kemampuan bisnis—seperti yang kita ikhtiarkan lewat kurikulum kewirausahaan untuk santri—mereka adalah mesin pertumbuhan. Desa harus menjadi inkubator bisnis, bukan sekadar penyuplai tenaga kerja kasar ke kota.
- Bahaya Institusi Rapuh vs Koperasi Profesional Kelemahan terbesar kita seringkali bukan pada ketiadaan uang, tapi pada ketiadaan kejujuran dan manajemen yang rapi. Koperasi (seperti KDMP yang kita bangun) tidak boleh lagi dikelola dengan gaya “warung kopi” yang asal jalan. Ia harus menjadi korporasi profesional. Mengapa? Karena hanya institusi ekonomi yang kuat dan akuntabel yang bisa melindungi uang warga desa saat badai inflasi menghantam.
- Bahaya Kehilangan Jiwa vs Restorasi Kedaulatan Desa Kita harus berani jujur, kedaulatan desa hari ini sedang dalam kondisi “sekarat”. Desa kian terjebak menjadi sekadar perpanjangan tangan administratif, kehilangan daya inisiatif, dan ruh kemandiriannya perlahan padam karena disetir aturan yang seragam. Menjelang Hari Desa 15 Januari ini, jangan biarkan momentum itu lewat hanya sebagai seremonial belaka. Ini adalah saatnya kita melakukan resusitasi (menghidupkan kembali) jantung desa. Kita harus rebut kembali makna Rekognisi dan Subsidiaritas. Desa harus kembali berdaya menentukan nasibnya, mengelola asetnya, dan merancang masa depannya sendiri. Desa bukan objek penderita, Desa adalah Subjek Utama Republik ini.
Saudaraku sekalian,
Mari kita renungkan kembali pedoman agung kita. Surah Al-Jumu’ah ayat 10 mengingatkan: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah…”
Ayat ini adalah jembatan emas yang menghubungkan perintah langit dengan kearifan bumi Nusantara. Perintah “Fantasyiru” (bertebaranlah) adalah seruan untuk bekerja keras mengolah “Fadhlillah” (Karunia Allah).
Di tanah air kita, Karunia Allah itu bermanifestasi dalam konsep “Loh Jinawi”. Loh artinya subur, Jinawi artinya makmur melimpah. Tuhan sudah memberi modal tanah yang Loh, tapi Jinawi tidak akan datang dengan sendirinya hanya dengan kita duduk berdoa di pojok surau.
Jinawi harus dijemput dengan keringat, dengan sains, dengan manajemen koperasi yang rapi, dan dengan daulat desa yang tegak. Inilah tafsir Gemah Ripah Loh Jinawi yang sesungguhnya: sebuah kemakmuran yang lahir karena kita menjalankan perintah Tuhan untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya.
Mendung memang sedang menggantung di langit global, tapi di desa, kita masih punya cangkul, kita masih punya tanah yang Loh, dan kita masih punya iman untuk terus menanam demi menjemput Jinawi.
Mari rapatkan barisan. Perkuat akar, sebelum badai benar-benar datang.
Klaten, Januari 2026 Salam Berdesa.
