
Klaten, narasidesa.com | Sarasehan Kirab Pager Banyu dalam rangka Mapak Suran #6 berlangsung hangat di Kampung Siluman, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Sabtu malam, 13 Juni 2026. Forum ini menjadi ruang temu warga, pemerintah, komunitas, pegiat lingkungan, dan dunia usaha untuk membicarakan kembali hubungan manusia, pohon, air, dan masa depan bentang alam lereng Merapi.
Suasana malam itu juga diramaikan oleh pertunjukan seni Gedrug Merapi dan sholawatan Girpasang. Kehadiran seni rakyat tersebut memperkuat Mapak Suren sebagai peristiwa budaya sekaligus gerakan ekologis warga.
Kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Tradisi, Menjaga Alam, Mengalirkan Kehidupan” ini tidak hanya hadir sebagai agenda budaya tahunan. Di balik suasana lesehan yang sederhana, sarasehan tersebut membawa pesan ekologis yang kuat. Warga Sidorejo ingin menegaskan bahwa menjaga pohon adalah bagian dari ikhtiar menjaga air, meskipun manfaatnya tidak selalu langsung dirasakan oleh kampung mereka sendiri.
Sarasehan Sabtu malam tersebut dihadiri oleh Joko Istiyanto selaku Staf Ahli Bupati Klaten, Camat Kemalang, Syahruna dari BPBD Klaten, BPPTKG, perwakilan Bappeda Klaten, Rama Zakaria dari Aqua Klaten, Kepala Desa Sidorejo, tokoh masyarakat, komunitas, pegiat lingkungan, serta warga setempat.
Ketua Panitia Mapak Suran #6, Jeniarto atau yang sering dipanggil Jack Donal, mengatakan bahwa Kirab Pager Banyu telah menjadi ruang belajar bersama bagi warga. Selama enam tahun terakhir, warga terus melakukan penanaman dan perawatan pohon di kawasan Kampung Siluman dan sekitarnya.
“Mapak Suran dan Kirab Pager Banyu bukan hanya kegiatan budaya tahunan. Bagi kami, ini adalah cara warga Sidorejo merawat alam, menjaga ingatan kampung, dan mengajak generasi muda memahami bahwa air adalah sumber kehidupan bersama,” ujar Jack.
Menurut Jack, kondisi ekologis Sidorejo memberi makna khusus bagi gerakan tersebut. Wilayah Sidorejo memiliki tanah berpasir khas kawasan lereng Merapi. Karena itu, pohon yang ditanam tidak serta-merta memunculkan mata air di sekitar permukiman warga. Air lebih banyak meresap dan bergerak menuju wilayah yang lebih rendah.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat warga berhenti merawat pohon. Justru di titik inilah pesan Kirab Pager Banyu menjadi kuat. Warga Sidorejo menjaga pohon bukan hanya untuk kampungnya sendiri. Mereka menjaga air untuk kehidupan yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat di wilayah hilir.
“Kami sadar, tanah Sidorejo berpasir sehingga pohon yang ditanam tidak langsung menghadirkan mata air di sini. Tetapi kami tetap menjaga pohon, karena air yang dijaga di hulu akan memberi manfaat bagi masyarakat di wilayah hilir,” lanjut Jack.

Dalam konteks itu, Kirab Pager Banyu dapat dibaca sebagai bentuk kesadaran ekologis warga hulu. Warga memahami bahwa pohon, tanah, air, dan kehidupan saling terhubung. Apa yang dirawat di hulu dapat memberi manfaat bagi banyak orang di bawah.
Joko Istiyanto, Staf Ahli Bupati Klaten, mengapresiasi inisiatif warga Sidorejo. Menurutnya, pelestarian lingkungan dapat tumbuh kuat ketika berpijak pada tradisi lokal dan partisipasi masyarakat.
“Kirab Pager Banyu menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat tumbuh dari tradisi lokal. Ini penting, karena pembangunan daerah tidak hanya bicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang daya dukung lingkungan, ketahanan air, dan partisipasi warga,” ujarnya.
Ia menambahkan, gerakan warga seperti ini perlu dilihat sebagai modal sosial yang penting bagi pembangunan daerah. Warga telah bergerak melalui tradisi, gotong royong, dan kesadaran menjaga alam. Karena itu, inisiatif tersebut perlu diperkuat agar tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan.
“Pemerintah daerah perlu melihat gerakan seperti ini sebagai modal sosial yang kuat. Warga sudah bergerak. Tugas kita bersama adalah memperkuat, menghubungkan, dan memastikan inisiatif baik ini dapat terus berkelanjutan,” tambahnya.
Dari sisi dunia usaha, Rama Zakaria dari Aqua Klaten menilai bahwa upaya warga Sidorejo menjaga kawasan hulu memiliki nilai penting bagi ekosistem konservasi. Menurutnya, air harus dilihat sebagai sumber kehidupan yang membutuhkan tanggung jawab bersama.
“Air adalah sumber kehidupan. Karena itu, upaya menjaga kawasan hulu seperti yang dilakukan warga Sidorejo menjadi sangat penting. Inisiatif warga melalui Kirab Pager Banyu perlu dilihat sebagai bagian dari ekosistem konservasi yang harus didukung secara berkelanjutan,” kata Rama.
Rama juga menekankan pentingnya kerja konkret setelah kegiatan seremoni selesai. Menurutnya, penanaman pohon harus diikuti dengan perawatan, pemantauan, dan kolaborasi jangka panjang.
“Kolaborasi antara warga, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha perlu diarahkan pada kerja yang konkret. Tidak cukup hanya menanam. Pohon harus dirawat, dipantau, dan dipastikan tumbuh agar manfaat ekologisnya benar-benar terasa,” ujarnya.
Kepala Desa Sidorejo menyampaikan bahwa Mapak Suran dan Kirab Pager Banyu telah menjadi bagian dari identitas warga. Tradisi ini menghubungkan masyarakat dengan sejarah kampung, alam Merapi, dan tanggung jawab menjaga lingkungan.
“Bagi Desa Sidorejo, Mapak Suran dan Kirab Pager Banyu adalah bagian dari identitas warga. Tradisi ini menghubungkan masyarakat dengan sejarah kampung, alam Merapi, dan tanggung jawab menjaga lingkungan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus mendukung kegiatan tersebut. Bagi Pemerintah Desa Sidorejo, gerakan warga yang menggabungkan tradisi, seni, konservasi, dan pelibatan anak muda merupakan modal penting bagi pembangunan desa yang berkelanjutan.
“Kami bangga karena warga tidak hanya menjaga tradisi dalam bentuk seremoni. Warga juga melakukan kerja nyata dengan menanam dan merawat pohon. Ini menjadi modal penting bagi desa untuk membangun kesadaran lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Mapak Suran #6 juga memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi media pendidikan lingkungan. Melalui Gedrug Merapi, sholawatan Girpasang, sarasehan, dan kirab, pesan menjaga air tidak hanya disampaikan melalui bahasa teknokratis. Pesan itu hadir melalui seni, doa, ingatan, perjumpaan warga, dan pengalaman hidup masyarakat lereng Merapi.
Kampung Siluman menjadi ruang penting dalam narasi tersebut. Bagi warga, kawasan ini bukan hanya tempat pelaksanaan kegiatan. Kampung Siluman juga menjadi ruang memori, ruang budaya, dan ruang ekologis. Di tempat inilah warga menghubungkan kembali sejarah kampung, perubahan alam, tradisi, dan tanggung jawab menjaga kehidupan.
Sarasehan juga menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda. Tradisi seperti Kirab Pager Banyu hanya akan bertahan jika anak muda tidak sekadar menjadi penonton. Mereka perlu dilibatkan dalam penanaman, perawatan pohon, dokumentasi, edukasi lingkungan, dan pengelolaan kegiatan.
Bagi warga Sidorejo, merawat pohon bukan pekerjaan sekali tanam. Pohon harus dijaga, dirawat, dan dipastikan tetap hidup setelah kegiatan selesai. Karena itu, Kirab Pager Banyu perlu dipahami sebagai proses panjang. Tradisi ini tidak berhenti pada kirab, tetapi berlanjut pada kerja sunyi warga menjaga tanah, pohon, air, dan ruang hidupnya.
Dari Kampung Siluman, warga Sidorejo mengirim pesan penting: menjaga hulu berarti menjaga masa depan. Pohon yang dirawat hari ini mungkin tidak langsung menghadirkan mata air di depan rumah mereka. Namun, air yang dijaga di hulu dapat menghidupi banyak orang di hilir.
Mapak Suran #6 menjadi pengingat bahwa desa memiliki cara sendiri dalam menjaga lingkungan. Tidak selalu melalui proyek besar. Tidak selalu melalui forum formal. Kadang, konservasi tumbuh dari tradisi, seni, doa, gotong royong, dan kesadaran sederhana bahwa air adalah kehidupan bersama.
